widgeo.net
Tampilkan postingan dengan label SAINTEK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SAINTEK. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 September 2013

Ciri Ciri Jamur Beracun


Saat ini, jamur seringkali dipakai untuk para vegetarian sebagai penganti daging. Karena rasa dan teksturnya yang hampir sama, tak heran banyak yang menyukai jamur. Berbagai olahan makananpun mulai dibuat untuk membuat jamur semakin nikmat disantap. Mulai dari jamur goreng crispy, jamur oseng, jamur pepes dan masih banyak lagi.

Beberapa jenis jamur yang biasanya anda konsumsi antara lain adalah jamur tiram, jamur merang, jamur kuping, jamur shiitake, jamur kancing, jamur lingzhi, jamur hiratake dan jamur enoki. Sayangnya, selain jenis jamur di atas tadi, masih banyak jenis jamur lain yang beracun. Apabila dikonsumsi, bisa menyebabkan sakit bahkan hingga kematian.

Nah, agar tidak salah mengkonsumsi jamur tidak ada salahnya anda mengetahui ciri-ciri jamur yang tidak layak dikonsumsi atau beracun di bawah ini:

       Warna terang mencolok

Jamur yang memiliki warna terang dan mencolok seperti merah, hijau, biru, hitam dan sebagainya biasanya termasuk jamur yang beracun. Jadi, bila anda menemukan jamur dengan warna yang mencolok sebaiknya jangan mengkonsumsinya.

       Mengandung senyawa sulfida

Jamur yang beracun dan tidak layak untuk dikonsumsi biasanya mengandung senyawa sulfida sehingga menimbulkan bau busuk. Selain dari senyawa sulfida, bau busuk juga berasal dari senyawa cianida. Ciri dari jamur yang mengandung dua senyawa itu biasanya jarang dihinggapi serangga atau binatang kecil lainnya.

       Memiliki cincin pada pangkal batangnya

Sebagian besar jamur beracun memiliki cincin pada pangkal batangnya kecuali pada jamur merang yang memiliki cincin namun layak dikonsumsi.

       Meninggalkan bekas saat dipotong

Jika jamur beracun dipotong oleh pisau yang terbuat dari perak atau stainless steel, maka akan terbentuk noda warna hitam atau biru pada batang bekas potongannya. Hal ini menandakan bahwa jamur tersebut mengandung racun dan tidak layak anda konsumsi.

       Menghasilkan bau menusuk hidung

*Jenis jamur yang beracun biasanya menghasilkan bau yang menusuk hidung. Bau telur busuk atau amoniak biasanya muncul saat anda pegang. Jadi jika anda menemukan jamur yang berbau di pasar sebaiknya jangan membelinya.

Posted by : Achmad

readmore »»  

Selasa, 03 September 2013

Kegunaan Wifi Selain Untuk Internetan


 

Kali ini saya ingin sharing informasi tentang WiFi. Ternyata WiFi memiliki banyak fungsi. Berikut fungsinya:


10. Sinkronisasi telepon Anda tanpa USB

Yup bener banget gan, sekarang Wi-Fi bisa juga diandalkan untuk sinkronisasi hengpon kita dengan laptop/komputer. Tapi sayangnya ini belum benar-benar "berguna", karena masih harus menggunakan aplikasi-aplikasi tambahan dan masih terpaku pada beberapa jenis hp saja. Contohnya baru hp android dan iPhone saja yang bisa. Itupun untuk android haru ada penambahan aplikasi lagi seperti DoubleTwist.

9. Mengubah Smartphone menjadi remote control


Aplikasi remote memungkinkan iTunes dan Apple TV harus dikendalikan menggunakan iPhone, iPod touch, atau iPad melalui jaringan Wi-Fi. Agan dapat memilih playlist, lagu, dan album seolah-olah agan sedang duduk di depan komputer atau Apple TV. Gmote Android berubah menjadi remote control untuk komputer, memungkinkan bagi agan-agan yang emang males/mager :d . Tapi lagi-lagi ini masih terbatas oleh produk-produk Apple dan hp-hp android saja gan .

8. Mengirim sesuatu yang akan diprint ke printer


Mungkin ini emang cukup berguna ya gan bagi kita yang mau ngeprint tugas langsung dari laptop ke printer . Tapi sayangnya belum ada informasi merk-merk printer apa saja yang sudah menyediakan fitur Wi-Fi ini gan.

7. Mentransfer foto dari kamera digital


Kartu Eye-Fi adalah kartu memori tanpa nirkabel. Ini pada dasarnya adalah persis seperti kartu SDHC - tetapi dengan manfaat yang fantastis ketika kamera sedang dalam jangkauan jaringan tertentu, foto dan video akan tertransfer ke komputer/laptop agan-agan sekalian .

6. Streaming film ke TV


Wi-fi memiliki potensi untuk menjadi hiburan masa depan rumah! Media server dapat streaming video melalui Wi-Fi untuk setiap HTPC lainnya, Xbox / Playstation-diaktifkan TV di rumah. Ada sejumlah sistem operasi, aplikasi, dan protokol untuk mendapatkan film secara nirkabel dari satu perangkat ke perangkat lainnya.

5. Stream audio ke speaker


Penggemar Apple memiliki pilihan terbaik untuk bermain musik mereka (pada speaker ada) di rumah mereka, sebagai Apple AirPort Express router adalah sedikit besar kit untuk streaming musik ke speaker.

4. Berguna sebagai router nirkabel


Sebuah aplikasi yang disebut PdaNet dapat mengubah iPhone agan-agan atau android ke router Wi-Fi yang berguna untuk PC atau MAC. Jadi hp agan-agan istilahnya sebagai perantara kelaptop/komputer. Tapi ane saranin dicoba dulu sebelum digunakan. Karena menurut sumber terpercaya aplikasi ini Not Fully Recommended

3. Share file dengan komputer lain


Penyedia penyimpanan file online - seperti Dropbox - memungkinkan foto, dokumen, dan video mana saja dan berbagi dengan mudah menggunakan jaringan Wi-Fi jika kedua pengguna memiliki account Dropbox. Ini merupakan metode (dan lebih aman) alternatif daripada menggunakan 'shared folder'

2. Telepon kita bisa tahu ketika kita ada di rumah


Tasker memungkinkan agan untuk memulai layanan atau menjalankan aplikasi setiap kali agan pulang ke rumah. ATasker profil dapat mendeteksi ketika agan kembali ke rumah karena agan terhubung ke jaringan rumah agan. Contohnya, jika dikantor/sekolah/kampus agan menggunakan profil 'silent', tapi ketika tiba dirumah Tasker dapat langsung mengubah profil agan menjadi 'ringing'

1. Untuk keamanan


Aplikasi seperti Find My iPhone menggunakan Wi-Fi untuk mencari iPhone agan-agan jika agan lupa meletakannya atau jika dicuri. Keberadaan perangkat dapat dipantau melalui Wi-Fi. Untuk agan-agan yang gak make iPhone kayak ane, aplikasi seperti Prey bisa kita gunakan. Prey akan mencari lokasi(melalui laptop/komputer) dimana hp kita berada dan jika dicuri apa yang sedang dilakukan oleh si pencuri oleh hp kita.
Itulah beberapa manfaat waifi selain digunakan untuk internetan. Semoga bermanfaat
 
 
readmore »»  

Selasa, 27 Agustus 2013

Download Soal ON MIPA PT 2011



Apa kabar sobat sekalian... sesi kali ini saya ingin sharing soal ON MIPA PT yang diadakan oleh oleh Kementrian Pendidikan. ON MIPA PT ini termasuk kompetisi yang setara dengan OSN tingkat SMP dan SMA tapi dia buat perguruan tinggi alias mahasiswa. Lomba ini memiliki kriteria dan persyaratan tertentu. Untuk tahun 2013 bisa di download disini:
                                                              DOWNLOAD

Pada mulanya peserta akan di seleksi tingkat Universitas di masing-masing universitasnya. Ini setara dengan OSK. Lalu mengikuti seleksi tingkat Provinsi di masing-masing provinsi. Baru setelah itu akan mengikuti seleksi Nasional yang diselenggarakan di universitas yang bakal ditunjuk oleh Mentri Pendidikan.Nih saya sharing soal ON MIPA PT tahun 2011:
                                                                    
                                                                       FISIKA
                                                                   MATEMATIKA
                                                                        KIMIA
                                                                      BIOLOGI
readmore »»  

Proses Pencokelatan pada Buah Apel

Apel adalah buah yang digemari oleh banyak orang. Terdapat beberapa jenis apel, seperti: Apel Granny Smith, Apel Fuji dan Apel Malang. Tiap jenis apel memiliki rasa yang khas, tetapi ada satu kesamaan dari semua apel, yaitu perubahan warna menjadi kecokelatan ketika apel dipotong atau dikupas. Perubahan warna ini dapat disertai dengan perubahan rasa pada apel yang mengurangi kelezatan buah tersebut. Banyak orang yang tidak mengetahui alasan di balik perubahan warna pada apel. Sesungguhnya, perubahan warna dari apel tersebut melibatkan reaksi kimia yang disebut proses pencokelatan.
 Proses Browning atau pencokelatan adalah proses di mana suatu zat, pada umumnya berupa makanan, berubah warna menjadi kecokelatan.[1] Perubahan warna tersebut umumnya diikuti oleh perubahan rasa pada makanan yang mengurangi cita rasa makanan sehingga proses ini seringkali dianggap merugikan. Namun, sesungguhnya ada pula proses pencokelatan yang diinginkan dan sengaja dilakukan pada bahan pangan. Terdapat dua jenis proses pencokelatan, yaitu: proses pencokelatan yang melibatkan kerja enzim atau pencokelatan enzimatik dan proses pencokelatan yang terjadi tanpa kerja dari enzim atau pencokelatan oksidatif. Karamelisasi dan Reaksi Maillard adalah dua jenis utama dari proses pencokelatan oksidatif. Karamelisasi merupakan proses oksidasi yang terjadi pada gula, sedangkan reaksi Maillard adalah reaksi kimia asam amino dan gula pereduksi.[2]

Proses pencokelatan enzimatik melibatkan enzim-enzim seperti Monophenol Monoxygenase atau tyrosinase, polifenol oksidase atau fenolase, dan laccase.[3] Proses pencokelatan yang dialami oleh apel merupakan proses pencokelatan enzimatik yang dipengaruhi oleh kerja enzim fenolase. Ketika apel dikupas atau dipotong, enzim yang tersimpan di dalam jaringan apel akan terbebas. Apabila enzim tersebut mengalami kontak dengan oksigen di udara, fenolase akan mengkatalisis konversi biokimia dari komponen fenolik yang ada pada apel sehingga komponen tersebut berubah menjadi pigmen coklat atau melanin. Proses ini pada umumnya terjadi pada pH antara 5,0-7,0 dan pada temperatur yang cenderung hangat. Sebagai tambahan, kontak dengan besi atau tembaga akan mempercepat reaksi pencokelatan enzimatik. Hal ini dapat diamati ketika apel dipotong menggunakan pisau yang telah berkarat atau ditaruh di dalam mangkok tembaga lalu diaduk-aduk, proses pencokelatan yang terjadi dapat terlihat dalam waktu yang lebih singkat.[4]

Terdapat dua reaksi dalam proses pencokelatan enzimatik yaitu reaksi Cresolase dan Catecholase.[5] Dalam reaksi Cresolase, komponen monofenol yang ada pada apel mengalami hidroksilasi menjadi o-difenol. Dalam reaksi Catecholase, difenol diubah menjadi o-quinone. Reaksi ini sering juga disebut reaksi difenolase. Reaksi Catecholase terjadi segera setelah terbentuknya senyawa o-difenol, tanpa memerlukan keberadaan oksigen ataupun enzim fenolase. Setelah senyawa o-quinone terbentuk, senyawa o-difenol akan mengalami hidroksilasi menjadi senyawa trifenolik yang akan bereaksi lebih jauh dengan o-quinone dalam proses pembentukan melanin coklat pada apel.[6]

Komponen fenolik pada apel berupa flavonoid dan asam fenolik. Flavonoid yang ada di dalam apel adalah flavonol, catechin, dan epicatechin. Contoh asam fenolik yang ada di dalam apel adalah asam cafeic dan asam p-coumaric yang membentuk ester dengan asam quinic di dalam apel. Senyawa fenolik lainnya adalah floretin glikosida. Konsentrasi masing-masing senyawa fenolik pada apel bervariasi, bergantung pada bagian-bagian di mana senyawa tersebut ada. Pada kulit apel, senyawa fenolik yang mendominasi adalah quercetin glikosida dan flavonol. Bagian inti dan biji buah apel banyak mengandung floretin glikosida. Bagian korteks buah apel banyak mengandung asam fenolik.[7]

Sebagian besar komponen fenolik yang dimiliki oleh apel berbentuk senyawa o-difenol. Senyawa o-difenol adalah senyawa organik berupa antioksidan yang berfungsi mengurangi resiko kanker. Dalam proses pencokelatan, enzim fenolase mengubah o-difenol pada apel menjadi o-quinone yang lebih reaktif. Senyawa o-quinone akan bereaksi lebih jauh dengan komponen fenolik lainnya dan protein pada jaringan apel dan membentuk melanin yang memberikan warna cokelat pada apel. Enzim fenolase memerlukan oksigen agar dapat bekerja. Oksigen berperan sebagai akseptor hidrogen dalam proses pencokelatan sedangkan Komponen fenolik pada apel merupakan substrat dari enzim fenolase.[8]

Proses pencokelatan juga dapat disebabkan oleh luka pada apel yang terjadi karena benturan-benturan pada permukaan apel. Ketika apel terluka, ada beberapa sel yang menjadi rusak. Kerusakan sel ini akan mengekspos komponen fenolik pada apel sehingga fenolase dapat dengan mudah bereaksi dengan komponen fenolik tersebut. Proses pencokelatan terjadi ketika fenolase mengoksidasi komponen fenolik yang sudah terekspos dan membentuk senyawa melanin yang memberikan warna kecokelatan pada apel. Konsentrasi dari fenolase yang ada pada apel akan mempengaruhi seberapa jauh proses pencokelatan terjadi.[9]

Pencegahan proses pencoklatan sangat penting dalam industri makanan, karena warna seringkali dianggap sebagai tolak ukur konsumen dalam memilih makanan. Kemungkinan terjadinya proses pencokelatan pada apel yang disebabkan oleh benturan-benturan meningkatkan kewaspadaan para produsen apel dalam proses pengemasan apel. Apabila apel tidak dikemas dengan baik, kemungkinan terjadinya luka pada saat transportasi apel semakin besar. Benturan-benturan yang terjadi akan menyebabkan terjadinya proses pencokelatan pada apel yang akan mengurangi daya tarik dan rasa dari apel. Oleh karena itu, produsen biasanya membungkus apel dengan kertas sebelum dimasukkan ke dalam kardus agar kemungkinan terjadinya benturan pada apel dapat dikurangi.
Penggunaan inhibitor dapat dilakukan guna mengontrol proses pencokelatan. Inhibitor bagi enzim fenolase dapat berupa dietil-ditiokarbonat. Seyawa ini dapat mencegah terjadinya proses pencokelatan enzimatik. Proses inhibisi dapat terjadi melalui tiga cara, yaitu: inaktivasi enzim, reaksi inhibitor dengan substrat, dan reaksi inhibitor dengan produk. Inaktivasi enzim terjadi ketika inhibitor membentuk suatu kompleks dengan enzim yang menyebabkan enzim tersebut menjadi tidak aktif dan tidak dapat bereaksi dengan senyawa. Inhibitor bereaksi dengan substrat sehingga substrat mengalami perubahan struktur dan tidak dapat membentuk kompleks dengan enzim. Inhibitor juga dapat bereaksi dengan produk. Namun, cara ini tidak dapat digunakan pada apel karena senyawa dietil-ditiokarbonat beracun bagi tubuh.
Mengurangi kontak makanan dengan oksigen juga dapat mengontrol proses pencokelatan. Metode ini dapat dilakukan dengan merendam apel dalam air sebelum mengonsumsi apel. Hal ini dapat dilakukan pada apel yang tidak langsung dikonsumsi setelah dikupas atau dipotong. Perendaman apel bertujuan agar enzim fenolase tidak dapat bereaksi dengan oksigen sehingga reaksi pencoklatan tidak terjadi karena proses pencokelatan enzimatik membutuhkan bantuan oksigen agar dapat terjadi.[10] Proses pencokelatan juga dapat dikontrol dengan proses pemanasan makanan. Enzim fenolase menjadi tidak aktif ketika dipanaskan. Namun, proses ini juga memiliki dampak negatif. Gula yang ada di dalam makanan akan keluar dari makanan karena suhu tinggi.[11]
Proses pencokelatan enzimatis juga dapat dikurangi denggan mengurangi kontak apel dengan besi. Selain itu, ada baiknya apabila apel yang telah dipotong tidak dimasukkan ke dalam mangkuk atau piring yang terbuat dari tembaga. Hal ini disebabkan karena reaksi enzimatis akan dipercepat oleh kedua jenis logam tersebut. Pemotongan apel lebih baik dilakukan dengan menggunakan pisau anti karat yang terbuat dari stainless steel. Pisau besi lebih mudah berkarat daripada pisau dari stainless steel. Apel mengandung asam yang bersifat korosif bagi berbagai jenis logam. Stainless steel termasuk logam yang tidak mudah bereaksi dengan asam sehingga tidak mudah berkarat. Seperti yang telah disebutkan, pisau yang berkarat akan mempercepat proses pencokelatan.
Pencegahan proses pencokelatan enzimatis pada apel juga dapat dilakukan dengan penurunan pH apel. Enzim fenolase yang berperan dalam reaksi pencokelatan pada apel memiliki pH optimum antara 5,0-7,0. Ketika apel diberi sedikit cairan asam, pH dari apel akan menurun. Ketika pH mencapai 3,0, aktivitas enzim fenolase akan berkurang. Berkurangnya aktivitas enzim fenolase tersebut akan mencegah proses pencokelatan enzimatis. Asam askorbat dapat digunakan karena asam askorbat merupakan inhibitor alami bagi fenolase. Asam askrobat yang digunakan dapat diperoleh dari sari jeruk nipis, sari buah nenas dan sari buah lemon. [12]
Proses pencokelatan pada makanan seringkali menimbulkan masalah bagi produsen maupun konsumen. Produsen makanan harus benar-benar memperhatikan cara pengemasan bahan makanan. Pengemasan apel yang tidak tepat akan mempercepat proses pencokelatan yang terjadi karena benturan-benturan. Hal tersebut dapat diminimalisir dengan penyusunan buah apel yang berukuran sama di dalam kotak yang sama. Dengan mengepak buah apel yang berukuran hampir sama di dalam satu kotak, rongga di dalam kotak dapat dikurangi dan apel dapat tersusun dengan rapi. Susunan apel yang rapi akan mengurangi pergerakan dan pergesekan antara apel yang satu dengan yang lain sehingga proses pencokelatan akibat luka atau benturan dapat dikurangi.
Apel merupakan buah yang memiliki banyak manfaat. Sangatlah disayangkan apabila peminat apel berkurang karena proses pencokelatan yang mengurangi kelezatan dari apel. Sesungguhnya, terdapat banyak cara mudah guna mencegah proses pencokelatan ini. Perendaman dengan air, pemberian sari jeruk nipis atau buah nenas, dan pemilihan pisau yang baik sebagai pemotong apel merupakan cara-cara yang dapat dilakukan oleh semua orang sebagai pencegahan proses pencokelatan. Hal-hal tersebut dapat dilakukan sehingga semua orang dapat menikmati apel tanpa harus terganggu oleh perubahan rasa yang disebabkan oleh proses pencokelatan.

DAFTAR PUSTAKA
Boyacioglu, D. (n.d.). Enzymatic Browning. Disadur dari: http://web.itu.edu.tr/~boyaci/07%20Enzymatic%20Browning.pdf (22 April 2011, pukul 23.15 WIB)
Cheng, G.W. & Crisosto, C.H. (1995). Browning Potential, Phenolic Composition, and Polyphenoloxidase Activity of Buffer Extracts of Peach and Nectarine Skin Tissue. Disadur dari: http://postharvest.ucdavis.edu/datastorefiles/234-342.pdf (22 April 2011, pukul 23.26 WIB)
Davies, C. (2002). Enzymatic Browning of Apple. Disadur dari: http://ag.udel.edu/other_websites/foodworkshop/WSFWorkshop/Enzymatic%20Browning%20%28Ch1%29.htm (22 April 2011, pukul 22.45 WIB)
Hatfield, R.D. & Sullivan, M.L. (2007). Polyphenol Oxidase Generated Quinones: Biochemical Mechanism and Conequences of Their Interactions with Proteins. Disadur dari: http://www.reeis.usda.gov/web/crisprojectpages/204872.html (22 April 2011, pukul 22.59 WIB)
Markowski, J. & Plocharski, W. (2005). Determination of Phenolic Cmpounds in Apples and Processed Apple Products. Disadur dari: http://www.insad.pl/files/journal_pdf/Suppl_2_2006/Suppl_2_full_12_2006.pdf (22 April 2011, pukul 23.49 WIB)
readmore »»